Seperti biasa aku keluar dari tempat kost menuju kampus, tapi sekarang hari sudah malam dan gelap. Sementara petir terus menyambar dan menggelegar. Tapi entah kenapa ayunan langkahku terus saja tak tertahankan. Walau otak ku terus berfikir kenapa aku harus keluar. Tapi, hati ku tak bisa mencegah semuanya. Ayunan langkahku seakan sudah pasti untuk meninggalkan tempat ini. Mungkin dengan alasan bosan, jenuh dan tak ingin lagi menghabiskan waktu hanya dengan bercanda yang tak ada ujungnya.
Petir masih menggelegar dan perlahan menghilang. Tiba-tiba rasa sakit menyerang dadaku. Aku berpikir, mungkin ini hanya akibat kelelahan aksi demonstrasi bersama kawan-kawan tadi siang. Aksi dorong-dorongan dengan polisi berakhir anarkis. Polisi memukul mahasiswa dalam aksi dorong-dorongan tersebut sehingga bentrokan tak terhindarkan lagi dan melempari massa mahasiswa dengan gas air mata agar massa bubar. Tanpa kusadari sebuah pukulan mendarat didadaku hingga aku roboh, untung ada yang menarikku menjauh dari tempat tersebut, jika tidak mungkin sekarang aku sudah berada di hotel pordeo (penjara) dianggap sama dengan para penjahat kelas kakap, padahal kami Cuma memperjuangkan nasib rakyat yang tertindas akibat para penjahat-penjahat bangsa yaitunya koruptor kelas kakap yang tak kunjung selesai kasusnya.
Aku mempercepat langkahku, karena rasa sakit itu semakin menyerangku, aku tak ingin terkapar dijalanan dimalam yang kelam ini. Ehm….. sesampainya di sekretariat tempat aktifitasku sehari-hari tak ku temukan siapapun. Mungkin teman-teman sudah capek dengan kegiatan rutinitasnya, sehingga mereka butuh istirahat di tempat tinggalnya masing-masing. Aku membuka pintu sambil memegang dadaku. Kemudian aku duduk dikursi untuk istirahat. Rasa itu tak mau pergi, bahkan bertambah sakit. Ingin rasanya aku berteriak namun teriakanku seakan hilang ditelan oleh rasa sakit itu sendiri. Malam semakin larut dan sunyi semakin mencekam. Malam ini ku rasakan berbeda dari malam kemaren, sunyi ini menghilangkan suara yang lain, sementara aku masih berjuang melawan rasa itu.
…Entah saat itu hari apa, aku tak tahu sudah berapa lama aku terbaring dirumah sakit. Yang kurasakan ada yang menutup mulutku dengan alat bantu pernapasan hingga aku tak bisa untuk berbicara, dan ditanganku tertancap sebuah jarum disambung dengan slang untuk memenuhi nutrisi tubuhku yang kurasakan tak bertenaga. Sayup-sayup kudengar suara isakan tangis seorang perempuan disampingku, sambil berdoa dengan terbata-bata agar aku diberi kekuatan untuk menjalani sisa hidup yang telah dijatahkan. Sebenarnya ku tak ingin membuatnya bersedih, karena sudah cukup banyak ia berkorban untukku. Memberi nasihat agar aku menjadi orang yang benar-benar bisa ia andalkan. Pasti dengan kondisi sekarang hatinya akan merasa kecewa atau cemas ketika mungkin harus kehilanganku. Cemas karena rasa sayangnya selalu melingkari hatiku.
Aku ingin sekali memberikan kebahagiaan untuknya. Membiarkannya menikmati hari tua tanpa harus ada beban. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi seperti ini. Dalam hati, ku berkata, Ya Allah berilah kekuatan pada Ibuku untuk menerima cobaan ini.Perlahan air mataku mengalir, karena aku tak bisa membuatnya tenang. Aku ingin bicara tapi suaraku tertahan ditenggorokan. Aku menangis karena aku sangat menyayanginya dan tak ingin melihatnya bersedih, apalagi itu karena aku. Aku tak tahu dokter telah memvonis penyakit apa padaku. Yang ku ingat hanya aku tejatuh dan pingsan ketika melaksanakan pelajaran olahraga lari di Sekolah, selebihnya aku tak tahu apa-apa. Aku hanya sadar ketika telah terbaring di Rumah sakit ini beberapa saat yang lalu.
Waktu terus berlalu dan Ujian Akhir Nasional semakin dekat, untunglah kondisi tubuhku sudah makin membaik. Dalam hati, aku bertekad bahwa aku harus mengikuti Ujian Akhir nasional ini dan lulus agar bisa melanjutkan cita-citaku untuk kuliah. Dengan perjuangan yang cukup berat dan bantuan teman-teman, akhirnya aku bisa lulus ujian. Aku juga lulus di Universitas Negeri yang ada di Ibukota Provinsi daerahku.
Aku takut penyakit 4 (empat) tahun yang lalu kambuh lagi. Padahal dari dulu aku selalu rutin minum obat. Cuma satu minggu ini, aku memang tak minum obat. Ketika kuminta uang sama orang tua untuk beli obat , katanya saat usaha yang dijalani orang tuaku tidak berjalan dengan lancar, sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sulit.. Aku tak mungkin memaksa untuk memintanya, karena ku tahu bagaimana kondisi perekonomian saat ini. Belum lagi kebutuhan adikku yang masih sekolah tingkat SLTA. Dan aku juga sadar Ibu terpaksa menjual perusahaan yang dikelola keluargaku untuk menutupi biaya pengobatanku dulu dirumah sakit. Perusahaan yang diwariskan Bapak sebelum ia di panggil sang khaliq, ketika aku berumur tiga tahun.
Karena sakit itulah, aku sedikit jaga jarak dengan teman-teman kuliah saat ini, apalagi teman cewek. Bahkan aku menyembunyikan masalahku ini pada mereka, kecuali seorang teman satu kamar kostku. Selama ini di Kampus aku selalu bersikap cuek dan tak banyak bicara, sehingga teman-teman dikampus banyak yang bilang bahwa aku jutek, angkuh, sombong dan sering kali kudengar mereka bilang bahwa aku ini aneh atau cowok misterius. Aku cuma bisa tertawa dalam hati mendengar apa yang mereka katakan. Aku tahu dalam hati aku bukan seperti itu, pastinya aku selalu ingin menjaga hubungan baik dengan mereka. Dalam hidup yang sedang kujalani aku berprinsip selama aku tidak sengaja menyakiti atau membuat orang tersinggung, aku tak peduli apapun penilaiannya terhadapku. Toh, setiap orang berhak untuk mengeluarkan pendapatnya, mungkin termasuk tentang aku. Semua itu aku lakukan karena aku tak ingin membuat mereka cemas dan sibuk ketika aku sakit sehingga mengganggu aktifitaskuliahnya. Mereka punya tanggung jawab terhadap orang tuanya, dalam pikiranku tak mungkin membuat mereka sibuk. Kebiasaanku suka menyendiri apalagi ketika ada masalah, aku lebih suka menyelesaikan masalahku sendiri dengan menenangkan diri. Apalagi instingku merasakan rasa sakitku akan kambuh, maka aku memilih untuk menghindar dari keramaian dan mencari tempat yang sepi pergi dengan alasan apapun pada teman-teman. Yang penting aku sendirian.
Untuk teman-teman cewek, bahkan untuk para junior sekalipun jangan coba-coba mencari perhatian padaku. No spesial girl, ketika aku merasakan rasa yang berlebihan maka, secara reflek aku akan menghindar bahkan menghilang darinya. Sebenarnya aku tak tega melakukan itu semua, tapi aku tak ingin memberikan harapan yang tak pasti padanya, sedangkan maut selalu menari-nari di atas kepalaku. Kapan saja malaikat maut bisa saja mencabut nyawaku. Ku tak ingin roh kujuga ikut bersedih ketika ada cewek yang meratapi jasadnya. Biarlah ia pergi dengan tenang, karena rasa penasaran orang-orang tersebut juga akan terhapus oleh waktu.
Aku masih memegang dadaku, tetapi sekujur tubuhku tak bisa ku gerakkan lagi, aku hanya bisa mengedipkan mata sambil membayangkan kejadian empat tahun yang lalu dan hampir sama dengan yang kurasakan saat ini. Namun sekarang, tak ada seorangpun disampingku. Tak ada isak tangis perempuan yang kudengar, yang ada hanya kesunyian dan kesepian. Aku tahu ini konsekuensi yang harus ku jalani dari menjalani sikap dalam keseharian. Aku sudah tahu konsekuensi ini semua yang akan terjadi.
Penyakit jantung kroner yang divoniskan dokter empat tahun yang lalu, sekarang kurasakan jauh lebih sakit dari yang dulu. Dadaku berdenyut dengan kencang diiringi rasa sakit disetiap denyutnya. Dalam hati kecilku berkata; jika Tuhan memanggilku sekarang aku ikhlas. Setidaknya aku telah berusaha untuk selalu berbuat baik untuk memperjuangkan masyarakat yang terus ditindas. Secepat kilat cahaya putih menyambar tubuhku dan semuanya berubah menjadi gelap.ˆˆˆˆ